Cara Pengolahan Tanah untuk Menanam Sayuran

Loading...

Lahan yang akan diolah untuk tanaman sayuran daun sebaiknya sebidang tanah yang gembur, banyak mengandung humus, subur, serta pembuangan airnya baik. Derajat kemasaman (pH) tanah yang optimum untuk pertumbuhannya adalah antara pH 6 sampai pH 7. Tanah yang hendak digemburkan harus dibersihkan dari bebatuan, rerumputan, semak atau pepohonan yang tumbuh dan bebas dari daerah ternaungi, karena tanaman sayuran daun suka pada cahaya matahari secara langsung. Kedalaman tanah yang dicangkul berkisar 20 sampai 40 cm. Berikut cara pengolahan tanah untuk menanam sayuran yang baik dan benar.

Cara Pengolahan Tanah untuk Menanam Bayam

Lahan untuk pertanaman bayam perlu diolah lebih dahulu dengan dicangkul sedalam 20–30 cm supaya gembur. Pengolahan tanah lahan Sawi dilakukan 3-4 minggu sebelum tanam. Tanah dicangkul sedalam 30 cm, dibersihkan dari gulma dan tanahnya diratakan. Bila pH rendah, digunakan kapur Dolomit sebanyak 1-1,5 ton/ha dan diaplikasikan 3 minggu sebelum tanam dengan cara disebar di permukaan tanah dan diaduk rata.

Cara Pengolahan Tanah untuk Menanam Bawang Daun

Lahan untuk penanaman bawang daun dicangkul dengan kedalamam 30-40 cm kemudian ditambahkan pupuk kandang. Hal ini dilakukan karena bawang daun menghendaki tanah yang gembur untuk pertumbuhannya. Kemudian siapkan bedengan dengan lebar 1-1,2 m dengan panjang sesuai dengan kondisi lahan. Parit antar bedengan dibuat dengan kedalaman 30 cm dan lebar 30 cm. Pembuatan parit sangat diperlukan agar drainase lancar karena bawang daun tidak menyukai adanya genangan air. Lahan penanaman katuk dapat disiapkan dalam bentuk petakan (sistem bedengan) atau bentuk larikan (sistem pagar).

Loading...

Cara Budidaya Bawang Merah dari Benih Hingga Panen Terlengkap

Cara Pengolahan Tanah untuk Menanam Kubis

Untuk penanaman kubis dipilih lahan yang bukan bekas tanaman “kubis–kubisan”. Sisa–sisa tanaman dikumpulkan lalu dikubur, kemudian tanah dicangkul sampai gembur. Dibuat lubang-lubang tanaman dengan jarak tanam 70 cm (antar barisan) x 50 cm (dalam barisan) atau 60 cm x 40 cm. Bila pH tanah kurang dari 5,5 dilakukan pengapuran menggunakan Kaptan/Dolomit dengan dosis 1,5 ton/ha dan diaplikasikan 3-4 minggu sebelum tanam atau bersamaan dengan pengolahan tanah.

Cara Pengolahan Tanah untuk Menanam Katuk

Sistem pengolahan lahan untuk penanaman katuk, ada 2 yakni:

  • Sistem petakan (bedengan)
    Lahan sistem bedengan digunakan dalam penanaman katuk secara khusus dengan jarak teratur, yaitu 20 cm x 20 cm, secara berjajar atau berbaris. Tanah dicangkul atau dibajak sedalam 30 cm atau lebih hingga gembur, kemudian dibuat bedengan atau petakan berukuran lebar 100- 120 cm, tinggi 30 cm, jarak antar petakan 30-40 cm dan panjang petakan tidak lebih dari 12 m. Bedengan ditaburi pupuk kandang kuda sebanyak 20 ton/ha, kemudian di campur dan diratakan.
  • Sistem larikan (pagar)
    Pengolahan tanah hanya dilakukan pada bidang tanah yang akan ditanami. Lahan yang terpilih diolah hingga gembur, dibentuk larikan selebar 30-40 cm, dengan ketinggian 30 cm dan ukuran panjang disesuaikan dengan keadaan lahan. Larikan ditaburi pupuk kandang sapi/kuda dengan dosis 20 ton/ha dan dicampur rata dengan tanah, kemudian dirapikan.

Tanah untuk penanaman selada dicangkul sedalam 20–30 cm. Kemudian diberi pupuk kandang sapi atau kuda ± 10 ton/ha, diaduk dan diratakan. Kemudian tanah dibuat bedengan lebar 100-120 cm. Apabila benih akan di tanam langsung, maka dibuat alur/garitan dengan cangkul yang dimiringkan. Jarak antara garitan ± 25 cm. Tetapi apabila benih disemaikan terlebih dahulu maka dibuat lubang tanam dengan jarak 25 cm x 25 cm atau 20 cm x 30 cm.

Tanah dicangkul sampai gembur kemudian dibuat lubang-lubang tanam dengan jarak tanam 50-70 cm (antar barisan) x 12-20 cm (dalam barisan). Jumlah seledri di lapangan umumnya berkisar antara 50 ribu100 ribu tanaman per hektar. Bila pH tanah kurang dari 5,5 dilakukan pengapuran menggunakan Kaptan/Dolomit dengan dosis 1,5 ton/ha, dan diaplikasikan 3-4 minggu sebelum tanam.

Mengamati Peralatan Pengolahan Tanah

1. Jenis peralatan untuk pengolahan tanah

Secara garis besar alat dan mesin pengolahan tanah juga dibedakan menjadi dua macam:

  • Alat dan mesin pengolahan tanah pertama (primary tillage equipment), yang digunakan untuk melakukan kegiatan pengolahan tanah pertama. Peralatan pengolahan tanah ini biasanya berupa bajak (plow), dengan segala jenisnya.
  • Alat dan mesin pengolahan tanah kedua (secondary tillage equipment), yang digunakan untuk melakukan pengolahan tanah kedua. Peralatan pengolahan tanah ini biasanya berupa garu (harrow) dengan segala jenisnya. Rollmeter untuk mengukur lahan dan bedengan, sabit, koret, parang untuk membersihkan lahan, cangkul, garpu tanah, dan linggis untuk tanah bebatuan, perlu digunakan untuk pengolahan tanah.
2. Kegiatan pengolahan tanah pertama (bajak) dan kedua (rotary)

Didalam tanah terdapat aneka ragam jasad renik dan bermacammacam materi mati. Bila semua organisme di dalam tanah saling bekerjasama maka tanah akan menjadi subur dan tanaman-tanaman akan tumbuh serta hasil panen bagus.

Karena kehidupan tanah rentan sekali terhadap gangguan dari luar, maka para petani perlu mengetahui rahasia kehidupan tanah dan bagaimana memperlakukannya. Selama ini berbagai cara pertanian telah menganggu fauna tanah. Traktor memadatkan struktur tanah, akibatnya hewan (misalnya cacing) kehilangan lingkungan hidupnya. Pestisida dan pupuk kimia dapat mematikan binatang yang hidup di permukaan maupun di dalam tanah. Oleh karena hal tersebut pembajakan dengan traktor dilakukan tidak sesering mungkin atau seminimal mungkin (Minimum tillage), demikian pula penggunaan rotary.

Lahan yang diperlukan untuk menanam berbagai jenis sayuran perlu diukur sesuai dengan luas yang diinginkan, misalnya seluas 1.000 m2 , maka lahan seluas tersebut perlu dibersihkan dari segala sesuatu yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman, seperti tunggul-tunggul sisa tebangan pohon, rumput-rumput yang tinggi atau semak, batu-batu dan sebagainya.

Panduan Cara Menanam Cabe Rawit untuk Pemula

Pola Pengolahan Tanah

Pola pengolahan tanah erat hubungannya dengan waktu yang hilang karena belokan selama pengolahan tanah. Pola pengolahan harus dipilih dengan tujuan untuk memperkecil sebanyak mungkin pengangkatan alat. Karena pada waktu diangkat alat itu tidak bekerja. Oleh karena itu harus diusahakan bajak atau garu tetap bekerja selama waktu operasi dilapangan. Makin banyak pengangkatan alat pada waktu belok, makin rendah efisiensi kerjanya. Pola pengolahan tanah yang banyak dikenal dan dilakukan adalah pola spiral, pola tepi, pola tengah dan pola alfa. Pola spiral yang paling banyak digunakan karena pembajakan dilakukan terus menerus tampa pengangkatan alat.

Pelaksanaa pengolahan tanah, perlu menggunakan pola-pola tertentu. Tujuan dari pola pengolahan tanah ini adalah:

Lebih efisien:

Apabila menggunakan pola yang sesuai, diharapkan: Waktu yang terbuang pada saat pengolahan tanah (pada saat implemen pengolahan tanah diangkat) sesedikit mungkin. Lahan yang diolah tidak diolah lagi Sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efisien.

Lebih efektif:

Hasil pengolahan tanah (khususnya untuk pembajakan) bisa merata. Bagian lahan yang diangkat tanahnya akan ditimbun kembali dari alur berikutnya. Sehingga diharapkan pekerjaan pengolahan tanah bisa lebih efektif.

Itulah ulasan singkat bagaimana cara pengolahan tanah untuk menanam sayuran. Ternyata tidak sulit yang untuk mengolah tanah yang akan di tanami sayuran, asalkan kita mau belajar dan mempelajarinya. Semoga dengan adanya artikel di atas dapat menambah wawasan teman-teman dalam mengolah tanah. Salam pertanian

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *