Pengertian Jual Beli, Hukum, Rukun, Syarat dan Ikrar Jual Beli

Loading...

Pengertian Jual Beli – Kegiatan Jual Beli merupakan kegiatan yang hampir setiap hari kita lakukan. Dalam kegiatan Ekonomi, jual beli merupakan hal yang sangat penting. Banyak para ahli yang juga turut mengartikan jual beli menurut versi mereka.

Jual Beli merupakan pemindahan hak milik berupa barang atau harta kepada pihak lain dan menggunakan uang sebagai salah satu alat tukarnya. Secara Etimologis pengertian jual beli adalah menukar harta dengan harga lainnya.

Pengertian Jual beli (البيع) secara bahasa merupakan masdar dari kata بعت diucapkan يبيع-باء bermakna memiliki dan membeli. Kata aslinya keluar dari kata الباع karena masing-masing dari dua orang yang melakukan akad meneruskannya untuk mengambil dan memberikan sesuatu. Orang yang melakukan penjualan dan pembelian disebut البيعان.

Loading...

Jual beli diartikan juga “pertukaran sesuatu dengan sesuatu”. Kata lain dari al-bai’ adalah asy-syira’, al-mubadah dan at-tijarah.

Pengertian Jual Beli Menurut Ahli Fiqih Islam

Para ahli memiliki pandangan yang berbeda beda mengenai pengertian jual beli. Berikut beberapa pengertian jual beli menurut para ahli, antara lain sebagai berikut.

  • Taqiyyudin, menurut Taqiyyudin jual berli merupakan saling tukar harta, menerima, dapat dikelola dengan proses ijab qabul dan cara yang sesuai syara’
  • Idris Ahmad, menurut Idris Ahmad jual beli merupakan proses menukar barang dengan barang atau barang dengan uang, dengan cara melepas hak milik dari satu orang kepada orang lainnya atas dasar ridha.
  • Imam Nawawi, menurut Imam Nawawi jual beli merupakan pertukaran harta dengan harga dengan tujuan untuk kepemilikan.
  • Ulama Hanafiah, menurut Ulama Hanafiah pengertian jual beli adalah proses pertukaran harta atau benda denan harta lain berdasarkan cara-cara khusus yang diperbolehkan.
  • Ibnu Qudamah, menurut Idmu Qudamah pengertian jual beli adalah proses pertukaran harta dengan harta untuk saling menjadi milik seseorang.
  • Raudh Al-Nadii Syarahkafi Al-Muhtadi, menurut Raudh Al-Nadii Syarahkafi Al-Muhtadi pengertian jual beli adalah tukar menukar harta meski ada dalam tanggungan atau kemanfaatan yang mubah dengan sesuatu semisal dengan keduanya untuk memberikan secara bertahap.

Hukum Jual Beli

Jual beli sudah ada sejak dulu, meskipun bentuknya berbeda. Jual beli  juga dibenarkan dan berlaku sejak zaman Rasulullah Muhammad SAW sampai sekarang. Jual beli mengalami perkembangan seiring pemikiran dan pemenuhan kebutuhan manusia. Jual beli yang ada di masyarakat di antaranya adalah: a) jual beli barter (tukar menukar barang dengan barang); b) money charger (pertukaran mata uang); c) jual beli kontan (langsung dibayar tunai); d) jual beli dengan cara mengangsur (kredit); e) jual beli dengan cara lelang (ditawarkan kepada masyarakat umum untuk mendapat harga tertinggi).

Berbagai macam bentuk jual beli tersebut harus dilakukan sesuai hukum jual beli dalam agama Islam. Hukum asal jual beli adalah mubah (boleh). Allah SWT telah menghalalkan praktik jual beli sesuai ketentuan dan syari’at-Nya. Dalam Surah al-Baqarah ayat 275 Allah SWT berfirman:

وَأَحَلَّ ٱللَّهُ ٱلۡبَيۡعَ وَحَرَّمَ ٱلرِّبَوٰاْۚ

 Artinya :
…Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan  riba…(Q.S. al-Baqarah: 275)

Jual beli yang dilakukan tidak boleh bertentangan dengan syariat agama Islam. Prinsip jual beli dalam Islam, tidak boleh merugikan salah satu pihak, baik penjual ataupun pembeli. Jual beli harus dilakukan atas dasar suka sama suka, bukan karena paksaan. Hal ini dijelaskan oleh Allah dalam surat an-Nisa’ ayat 29.
yang Artinya :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesamamu  dengan jalan batil melainkan dengan jalan jual beli suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa : 29)

Dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِيِّ يَقُوْلُ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهَ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِنَّمَا الْبَيْعُ عَنْ تَرَاضٍ. رواه ابن ماجه

Artinya :
Dari Abi Sa’id al-Khudri berkata, Rasulullah SAW bersabda: sesungguhnya  jual beli itu didasarkan atas saling meridai.(H.R. Ibnu Maajah).

Hukum Jual Beli

Hukum jual beli ada beberapa macam, antara lain sebagai berikut

  1. Mubah (boleh), merupakan hukum asal jual beli;
  2. Wajib, apabila menjual merupakan keharusan, misalnya menjual barang untuk membayar hutang;
  3. Sunah, misalnya menjual barang  kepada sahabat atau orang yang sangat memerlukan barang yang dijual;
  4. Haram, misalnya menjual barang yang dilarang untuk diperjualbelikan. Menjual barang untuk maksiat, jual beli untuk menyakiti seseorang, jual beli untuk merusak harga pasar, dan jual beli dengan tujuan merusak ketentraman masyarakat.

Rukun Jaul Beli dan Syarat Jual Beli

Tanpa terpenuhinya rukun dan syarat jual beli maka transaksi jual beli tidaklah sah. Dalam ajaran islam, rukun dan syarat jual beli yang harus diperhatikan meliputi : adanya penjual dan pembeli, uang dan barang, serta ikrar jual beli. Keterangan tentang rukun jual beli dan syarat jual beli adalah sebagai berikut:

1. Penjual dan Pembeli

Kedua belah pihak harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :

  • Kedua belah pihak adalah orang yang berakal sehat agar tidak terkecoh. Jual beli yang dilakukan oleh orang yang gila atau tidak sehat akalnya hukumnya adalah tidak sah.
  • Antara penjual dan pembeli sama-sama rela, dan tidak terpaksa (Q.S. An-Nisa’/4: 29)
  • Orang yang melakukan jual beli baik penjual dan pembeli adalah sudah baligh atau dewasa, kecuali pada transaksi jual beli barang-barang kecil, makanan-makanan kecil, dan makanan yang relatif murah.
2. Uang dan Barang yang Diperjualbelikan

Adapun syarat uang dan barang dalam jual beli yang sah adalah sebagai berikut:

  • Barang yang diperjualbelikan suci dari najis. Bangkai dan kulit yang belum disamak tidak boleh diperjualbelikan, sebagaimana diterangkan dalam dalil hadits Nabi berikut ini :

Artinya:
“Dari Jabir bin Abdulah, bersabda Rasulullah saw., “Sesungguhnya Allah dan rasul-Nya telah mengharamkan menjual arak dan bangkai, juga babi dan berhala.” Ditanyakan (kala itu), “Bagaimana lemak bangkai, ya Rasulullah? karena lemak itu berguna untuk cat perahu, minyak kulit, dan minyak lampu.” Beliau menjawab, “Tidak boleh, semua itu haram. Celakalah orang Yahudi tatkala Allah mengharamkan akan lemak bangkai, mereka hancurkan lemak bangkai itu sampai menjadi minyak, kemudian mereka jual minyaknya, lalu mereka makan uangnya.” (H.R. Al-Bukhari)

  • Ada manfaat dari jual beli. Jual beli barang yang tidak ada manfaatnya tidak boleh dilakukan karena termasuk menyia-nyiakan harta (uang).
  • Barang yang dijual oleh penjual pada jual beli dapat dikuasai oleh pihak pembeli. Oleh sebab itu, tidak sah apabila penjuak menjual ayam yang belum ditangkap dan menjual burung yang masih berkeliaran.
  • Barang itu diketahui secara jelas oleh pembeli, baik bentuk ukuran, maupun sifat-sifatnya.
  • Barang itu milik penjual sendiri atau milik orang lain yang sudah dikuasakan kepadanya untuk dijual.

Ikrar atau Pernyataan Jual Beli

Ikrar jual beli terdiri atas ijab dan kabul. Ijab merupakan ikrar penjual dan kabul merupakan ikrar pembeli. Contoh ikrar jual beli misalnya: Penjual berkata, “Saya jual sepeda motor ini kepadamu dengan harga empat juta.” Pembeli menjawab, “Saya terima sepeda motor ini dengan harga tersebut.”

Dari pengertian di atas, jual beli merupakan transaksi antara satu orang dengan orang yang lain berupa tukar menukar barang yang tidak bisa kita lepaskan dalam kehidupan kita dan hukum jual beli adalah diperbolehkan. Agar jual beli yang kita lakukan sah harus memenuhi syarat dan rukun dari jual beli

Demikianlah penjelasan mengenai pengertian jual beli, hukum, rukun & syarat serta ikrarnya, semoga dapat berguna dan bermanfaat untuk Anda dalam melakukan transaksi jual beli dalam kehidupan sehari-hari.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *