Pengertian Cek, Dasar Hukum, Jenis-Jenis, Dan Masa Berlakunya Cek

Loading...

Pengertian Cek – Cek adalah surat perintah tanpa syarat dari nasabah kepada Bank dari orang yang memelihara rekening biro nasabah tersebut,  untuk membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebutkan  di dalamnya atau kepada pemegang cek tersebut. Dengan demikian cek adalah suatu alat untuk melakukan tukar-menukar. Karena dapat dibayar atas permintaan si pembawa (yakni pihak yang kepadanya cek itu dialamatkan), cek juga suatu nilai, sama halnya dengan lembaran uang. Untuk menggunakan cek, kita harus membuka giro di bank yang bersangkutan.

Sedangkan pengertian cek secara umum adalah sarana yang digunakan untuk menarik atau mengambil uang dari rekening giro. Fungsi lain dari cek adalah sebagai alat untuk melakukan pembayaran. Jika anda pernah menyaksikan film “Catch Me If You Can” yang dibintangi oleh Leonardo di Caprio dan Tom Hanks, maka anda akan menemukan bahwa cek memiliki karakteristik yang sangat menarik.

Jadi, jika kita memiliki cek dan cek tersebut adalah cek asli, maka bank harus membayar siapa saja (ada nama seseorang atas badan atau tidak ada sama sekali) yang membawa cek ke bank yang memelihara rekening nasabah untuk diuangkan sesuai dengan persyaratan yang telah ditetapkan, baik secara tunai maupun pemindahbukuan.

Loading...

Penguangan cek juga dapat dilakukan di bank yang bukan mengeluarkan cek tersebut. Hanya bedanya jika yang diuangkan bukan di bank penerbit, maka prosesnya tidak dapat diambil saat itu juga akan tetapi dipindahbukukan melalui proses kliring untuk dalam kota dan inkaso untuk cek yang berasal dari luar negeri.

Bank penerima akan menagihkan ke bank penerbit keesokan harinya. Untuk kliring memakan waktu satu hari dan untuk inkaso memakan waktu satu minggu bahkan sampai satu bulan tergantung dari jarak  dan sarana yang digunakan.

Dasar Hukum Pengaturan Cek

Dasar hukum pengaturan cek diatur dalam Pasal 178 sampai dengan 229 KUH Dagang. Di samping itu, ada tambahan penjelasan yang dimuat dalam Surat Edaran Bank Indonesia. Dalam Pasal 178 KUH Dagang ditentukan syarat untuk cek sebagai surat berharga, yakni:

  1. harus terdapat perkataan “cek” dalam bahasa yang dipakai untuk merumuskan bunyi cek tersebut;
  2. surat cek harus berisi perintah tak bersyarat untuk membayar sejumlah uang tertentu;
  3. nama orang yang harus membayar (tertaik) harus selalu suatu bank;
  4. penunjukkan tempat pembayaran;
  5. penyebutan tanggal dan tempat penarikan cek;
  6. tanda tangan orang yang menarik cek.

Dengan demikian, syarat-syarat di atas merupakan syarat mutlak dan jika salah satu tidak disebutkan maka surat tersebut tidak dapat dikatakan sebagai cek sesuai Pasal 179 Ayat (1) KUH Dagang.

Namun, dalam Pasal 179 Ayat 2, 3 dan 4 KUH Dagang, cek dapat memiliki kekhususan, yaitu:

  1. Tempat pembayaran tidak disebutkan secara tegas maka tempat pembayaran dianggap tempat yang disebutkan di samping nama sitertarik.
  2. Penunjukkan tidak ada maka cek harus dibayar di tempat nama kantor besar (Pusat) dari tertarik berada.
  3. Jika disebutkan tempat mana cek ditarik maka tempat yang disebutkan di samping nama si penarik dianggap selaku tempat itu.

Syarat lainnya yang dapat ditetapkan oleh bank umum untuk menarik sejumlah uang yang diinginkan adalah sebagai berikut :

  1. Tersedianya dana
  2. Ada materai yang cukup
  3. Jika ada coretan atau perubahan harus ditandatangani oleh si pemberi cek
  4. Jumlah uang yang tertulis di angka dengan huruf haruslah sama
  5. Memperlihatkan masa kadaluarsa cek yaitu 70 hari setelah dikeluarkannya cek tersebut
  6. Tanda tangan atau stempel perusahaan harus sama dengan yang ada di specimen (contoh tanda tangan)
  7. Tidak diblokir pihak berwenang
  8. Resi cek sudah kembali
  9. Endorsment cek benar, jika ada
  10. Kondisi cek sempurna
  11. Rekening belum ditutup
  12. Dan syarat-syarat lainnya.

Jenis-Jenis Cek

Cek merupakan salah satu surat berharga, oleh karena, hak atas cek dapat dipindah tangankan kepada orang lain dengan cara endosemen dan dilanjutkan dengan penyerahan. Dengan adanya ketentuan-ketentuan yang bersifat khusus, menyebabkan adanya beberapa jenis cek.

1. Cek atas unjuk/pembawa (aan toonder)

Cek atas unjuk merupakan cek di mana bank akan membayarkan kepada siapa saja dengan tidak tertulis nama seseorang atau badan hukum tertentu, yang datang untuk menguangkan cek tersebut kepada pembawanya.

2. Cek atas nama (aan order)

Cek atas nama  merupakan cek di mana bank akan membayar kepada orang yang namanya tercantum di dalam cek yang bersangkutan.

3. Cek atas pembawa

Cek atas pembawa merupakan cek di mana bank akan memperlakukan cek semacam ini sebagai cek atas unjuk, akan tetapi hal ini berbeda apabila sebutan pembawa dicoret maka cek tersebut berlaku sebagai cek atas nama.

4. Cek mundur (postdated cheque)

Cek mundur merupakan cek yang oleh penariknya diberi tanggal akan datang, dengan demikian cek yang bersangkutan hanya dapat diuangkan pada tanggal yang telah dicantumkan dalam cek yang bersangkutan.

5. Cek silang (crossed cheque)

Cek silang merupakan cek yang diberikan tanda silang/garis miring yang sejajar pada bagian muka. Tanda silang tersebut memberikan petunjuk kepada bank pembayar bahwa cek tersebut hanya dapat dibayarkan kepada suatu bank yang disebut di antara kedua garis silang sejajar. Dengan demikian, cek silang hanyalah untuk disetorkan ke dalam rekening saja, sehingga cek yang bersangkutan hanya dapat dikliringkan pada bank tersebut.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *